Jakarta, ANTPNEWS110.COM  — Nama Gloria Natapradja Hamel pernah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia saat ditunjuk menjadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) di Istana.

Kala itu gadis kelahiran 1 Januari 2000 ini, sempat dinyatakan gugur karena bertatus warga negara asing lantara ayahnya berkewarganegaraan Prancis. Kini Gloria masih menjalankan aktivitasnya menjadi Duta Kemenpora.

Gloria nyatanya merupakan pribadi yang ceria dan menerapkan toleransi alam kesehariannya. Ia mengaku bahwa dirinya sudah belajar untuk memberikan rasa toleransi bahkan dimulai dengan mentoleransi perbedaan pola asuh ibunya yang sangat Indonesia, dan ayahnya yang kebarat-baratan.

  1. Makna toleransi bagi Gloria

Bagi Gloria, toleransi lebih dari sekadar menerima perbedaan yang ada pada manusia. Baginya, toleransi bahkan mengenai berusaha mencintai perbedaan itu.

“Kita gak mungkin sehari menjadi orang lain. Gak akan sanggup. Karena kekuatan setiap orang beda, permasalahan setiap orang beda,” kata Gloria. “Be kind people. Everybody is fighting their own battle,” tambahnya.

Menurut Gloria, penting untuk dapat mencintai perbedaan yang ada anatar pribadi yang satu dengan pribadi yang lainnya. “Kebaikan dan keburukan orang itu yang membua orang utuh sebagai manusia. Jadi mencintai itu yang penting,” kata Gloria.

2. Belajar toleransi pertama dari perceraian orangtua

Perceraian kedua orangtuanya diakui Gloria menjadi titik awal ia memahami dengan benar bagaimana cara bertoleransi. Mentoleransi perbedaan budaya yang sangat dirasakannya lewat pola asuh kedua orangtuanya menjadi titik pertama.

Bermula dari Gloria kecil kala itu mulai menyadari bahwa hubungan orangtuanya tak lagi sehangat dulu. “Orangtua kayak perang dingin. Pas SMP semakin resah karena masing-masing mulai drama,” kata Gloria saat diundang sebagai pembicara dalam acara “Bersama merawat keberagamaan” di kawasan Jakarta Pusat.

“Orang berhak bahagia dengan pilihannya masing-masing. Mereka bertahan hanya karena respect sama gue sebagai anak,” kata Gloria bercerita. Kala itu, akhirnya Gloria memutuskan untuk mengajak kedua orangtuanya bicara.

Gloria dalam momentum itu menyatakan bahwa dirinya dapat menerima jika memang kedua orantuanya ingin berpisah. “Sebagai anak yang saya ingin adalah melihat orangtua saya bahagia, dan gue harus belajar mentoleransi bahwa mereka bahagia dengan tidak bersama,” kata Gloria.

Perpisahan kedua orangtuanya menjadi momen pendewasaan bagi Gloria. “Itu pertama kali gue merasa seneng dari lubuk hati yang terdalam,” kata Gloria. “Toleransi itu adalah wujud tertinggi dari proses mencintai,” katanya lagi.

  1. Mendengarkan cerita yang dianggap tabu untuk dibicarakan

Sejak SD, Gloria mengaku kerap merasa resah terhadap sekitarnya. Pasalnya dalam lingkungan sekitar ia merasa ada hal-hal yang oleh masyarakat dianggap sebagai hal tabu yang tidak layak untuk dibicarakan. Salah satunya mengenai broken home.

“Coba bayangkan orang yang broken home itu sedang mentally gak balance, tapi gak punya orang buat rumah buat cerita karena ga ada tempat cerita,” kata Gloria. Hal ini meresahkannya. Gloria mengatakan hal-hal semacam ini yang membuat tingkat depresi remaja di Indonesia tergolong tinggi.

Gloria sendiri tidak ingin semakin banyak millennials di Indonesia yang merasakan hal itu dan berfikir mereka sendiri. “Gue gak mau semakin banyak millennials Indonesia yang depresi. So just be open with it,” kata Gloria.

Saat ditemui di jakarta Pusat, Kamis (12/7) lalu, Gloria menjelaskan hingga saat ini banyak sekali millennials yang bercerita kepadanya lewat Instagram. Gloria sendiri merasa senang jika membuat orang lain merasa dia tidak sendiri dan bisa bercerita secara terbuka kepadanya.

Laporan : Rommy Sumampow

Follow by Email
Facebook
Google+
//antpnews110.com/ini-kabar-gloria-kini-paskibraka-yang-sempat-dinyatakan-gugur/
Twitter
Instagram

40total visits,1visits today

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.