Tantangan Medan Berat Penghambat Evakuasi Korban Pembunuhan di Pegunungan Bintang, KKB Yamue Diburu

Pegunungan Bintang – PAPUA PEGUNUNGAN – Antpnews110.com – Penanganan kasus pembunuhan yang menimpa para pendulang emas di Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, terus dilakukan secara intensif oleh petugas gabungan. Hingga kini, prioritas utama aparat tertuju pada penyelesaian proses evakuasi, pencarian korban yang selamat, serta pengejaran terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Data sementara yang diterima aparat menyebutkan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 10 orang. Namun angka ini dinilai belum menjadi hasil akhir, mengingat informasi yang berkembang menyebutkan masih ada sejumlah pendulang emas yang belum ditemukan dan dikabarkan bersembunyi di tengah kawasan hutan sekitar lokasi kejadian.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal serta penelaahan terhadap rekaman gambar atau video yang tersebar di masyarakat, pelaku pembunuhan diduga kuat adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Batalyon Yamue. Kelompok ini dipimpin oleh seseorang yang dikenal dengan nama samaran Dejang Hiluka atau nama aslinya Ronald Hiluka.

Kekuatan kelompok pelaku diperkirakan berjumlah sekitar 15 orang dengan persenjataan yang cukup memadai untuk melakukan serangan. Dari informasi yang terhimpun, mereka diketahui membawa satu pucuk senjata jenis AR-15, disertai dengan beberapa senjata api rakitan yang biasa digunakan dalam aksi kekerasan di wilayah pegunungan.

Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 turut bergerak aktif dengan membangun sinergi bersama unsur Forkopimda Kabupaten Boven Digoel. Sinergitas ini dibangun untuk mendukung kelancaran proses penyelidikan kasus, pengamanan wilayah yang lebih luas, serta mempercepat proses pemindahan korban dari lokasi kejadian.

Di sisi lain, tim penyidik juga terus melakukan pendalaman terhadap jejak dan jaringan yang dimiliki oleh kelompok pelaku. Berbagai keterangan serta barang bukti yang ada di lapangan dikumpulkan secara rinci guna melengkapi berkas perkara dan mendukung proses penegakan hukum yang berlaku.

Secara administrasi, lokasi kejadian memang berada di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang. Akan tetapi, akses jalan yang paling dekat dan dapat dilalui kendaraan maupun rombongan petugas justru berada melalui wilayah Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel. Hal ini dikarenakan kondisi geografis wilayah kejadian yang sangat sulit dilalui.

Wilayah tersebut dikelilingi oleh hutan lebat dengan kontur tanah yang terjal, sehingga mengharuskan petugas membuka jalur baru demi mencapai lokasi kejadian. Proses pembukaan jalur atau pembabatan hutan ini menjadi salah satu kendala utama yang memperlambat laju evakuasi korban.

Sebagai solusi sementara, pos komando dan titik kumpul evakuasi dipusatkan di Tanah Merah. Dari lokasi ini, seluruh personel gabungan mengatur strategi dan terus berupaya keras agar proses pencarian serta pemindahan korban dapat berjalan lebih cepat dan aman.

Kegiatan yang dilaksanakan petugas tidak hanya berfokus pada pengangkatan jenazah korban yang meninggal dunia. Tim pencari juga terus bergerak menyisir kawasan sekitar untuk menemukan dan menyelamatkan para korban yang dikabarkan selamat namun masih bersembunyi di dalam hutan.

Peristiwa nahas ini diketahui terjadi pada tanggal 18 Mei 2026 silam. Lokasi kejadian persis berada di kawasan hutan lindung yang sekaligus dijadikan tempat penambangan oleh warga di Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, memastikan bahwa seluruh kekuatan personel yang ada akan dimaksimalkan. Mulai dari proses evakuasi hingga pengungkapan kasus akan dilakukan secara menyeluruh demi menjaga stabilitas keamanan dan memastikan seluruh korban segera tertangani.

“Fokus utama kami saat ini adalah menyelamatkan korban selamat, mengevakuasi para korban meninggal dunia, serta melakukan pengejaran terhadap kelompok pelaku secara profesional dan terukur,” ungkap Irjen Faizal pada keterangannya di lokasi operasi, Jumat (22/05/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan ini adalah medan yang berat dan sulit diprediksi. Oleh karena itu, seluruh anggota yang bertugas di lapangan diimbau untuk tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri sendiri saat menjalankan setiap perintah tugas.

Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, turut memberikan peringatan keras kepada masyarakat. Ia menghimbau agar warga tidak lagi melakukan aktivitas pendulangan maupun penambangan emas di wilayah-wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan konflik.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pendulangan atau penambangan ilegal di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena sangat berisiko terhadap keselamatan nyawa,” kata Kombes Adarma mengingatkan kembali.

Menurut pandangannya, kawasan hutan lindung di wilayah tersebut sebenarnya bukan tempat untuk kegiatan penambangan karena tidak memiliki izin resmi. Lebih dari itu, wilayah ini sudah lama dikenal sebagai lokasi yang kerap dijadikan sasaran maupun tempat persembunyian kelompok kriminal bersenjata.

Pesan serupa juga disampaikan oleh Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo. Ia meminta masyarakat untuk cerdas dalam menerima informasi dan tidak mudah percaya pada berita yang kebenarannya belum teruji, serta hanya merujuk pada rilis resmi aparat.

Pihak kepolisian menjamin bahwa aparat keamanan akan terus bekerja keras menjaga ketertiban umum agar tetap kondusif. Di saat yang sama, seluruh proses evakuasi dan penyelidikan akan terus didorong progresnya agar hasil yang dicapai dapat maksimal dan memuaskan masyarakat.

“Kami meminta masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi, serta mendukung proses penanganan yang sedang dilakukan petugas di lapangan,” imbau Kombes Yusuf untuk menenangkan publik.

Pihak berwenang juga mencatat pola kejadian di wilayah tersebut yang cenderung berulang dengan risiko bahaya yang sangat tinggi. Selain tidak berizin dan berada di kawasan lindung, wilayah tersebut kerap dijadikan panggung aksi kejahatan seperti teror, penganiayaan, ancaman kekerasan, hingga pembunuhan oleh kelompok bersenjata.

Segala tindakan kejahatan itu dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata dengan berbagai motif, salah satunya adalah untuk menarik perhatian publik serta menunjukkan eksistensi keberadaan mereka, baik di tingkat nasional maupun internasional melalui pemberitaan yang muncul pascakejadian.

Laporan : Richard I. Wagiu

 

Total Page Visits: 397 - Today Page Visits: 1

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

error: Content is protected !!
Secured By miniOrange