Lewat Simbol Adat Patah Panah, Tokoh Masyarakat dan Polres Tolikara Resmi Akhiri Konflik Antarwarga
Tolikara – PAPUA PEGUNUNGAN – Antpnews110.com – Upaya perdamaian terus digencarkan di Kabupaten Tolikara pasca terjadinya aksi saling serang yang melibatkan warga dari dua distrik berbeda. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan Polres Tolikara pun bersatu menggelar kegiatan himbauan bersama demi menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut. Kegiatan berlangsung pada Rabu (05/08/2026) di Pertigaan Tugu Salib, Kota Karubaga, Papua Pegunungan.
Hadir langsung di lokasi kegiatan sejumlah pejabat utama Polres Tolikara yang membawahi berbagai fungsi kepolisian. Mereka meliputi Kasat Samapta IPTU Eko Haryanto, Kasat Binmas IPDA Kasrim, Kasat Intelkam IPDA David Manalu, serta sejumlah perwira dan anggota lainnya yang turut mengawal pelaksanaan kegiatan.
Kehadiran unsur kepolisian turut diperkuat sekitar 50 personel yang disiagakan guna menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Selain itu, hadir pula tokoh-tokoh kunci masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam menjaga keharmonisan antarwarga di Kabupaten Tolikara.
Di antara tokoh masyarakat yang hadir adalah Ketua KNPI Kabupaten Tolikara Mekinus Kogoya, Ketua Klasis GIDI Wilayah Toli Pendeta Yeremias Wandik, S.Th., serta Kepala Suku Umum Kabupaten Tolikara Kitanggen Yikwa. Ketiganya secara bergantian menyampaikan pesan perdamaian kepada warga yang berkumpul.
Ketua KNPI dalam sambutannya mengajak warga untuk menghentikan segala bentuk pertikaian yang dapat merugikan kepentingan bersama. Ia menegaskan bahwa seluruh masyarakat Tolikara adalah saudara, sehingga seharusnya saling merangkul dan menjaga persatuan, bukan sebaliknya saling menyakiti.
Kepala Suku Umum juga turut mengingatkan agar peristiwa yang menimbulkan ketakutan dan gangguan aktivitas warga tersebut tidak terulang lagi di masa mendatang. Warga diharapkan mampu menjaga ketenangan agar kehidupan berjalan kembali normal dan aman bagi semua pihak.
Sementara itu, Ketua Klasis GIDI Wilayah Toli menyampaikan ajakan untuk kembali memegang teguh nilai-nilai kasih, persaudaraan, dan kemanusiaan. Segala bentuk kekerasan dinilai hanya akan membawa penderitaan dan kehancuran, sehingga tidak sejalan dengan ajaran agama yang dianut masyarakat.
Pihak kepolisian melalui Kasat Binmas Polres Tolikara, IPDA Kasrim, yang menyampaikan pesan dari Kapolres, juga meminta warga agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi isu yang dapat memicu konflik baru. Setiap informasi yang belum jelas kebenarannya sebaiknya tidak disebarluaskan.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar bersama-sama menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Jangan melakukan balas dendam. Selesaikan masalah melalui musyawarah, saling menghargai, dan kembali beraktivitas dengan aman demi kedamaian Tolikara,” tegas IPDA Kasrim.
Puncak kegiatan ditandai dengan pelaksanaan Aksi Patah Panah yang dilakukan secara bersama-sama oleh para tokoh adat, agama, pemuda, masyarakat, dan perwakilan kepolisian. Simbol adat ini menandai berakhirnya perselisihan yang terjadi pada 4 Agustus 2026.
Patahnya panah secara bersama-sama menjadi bukti tekad bersama untuk menolak kekerasan, mengakhiri perselisihan, dan mempererat kembali ikatan persaudaraan antarwarga. Harapannya, tidak akan ada lagi pertikaian yang memecah belah kebersamaan yang sudah terjalin selama ini.
Kegiatan tersebut pun berakhir dengan suasana yang aman, tertib, dan penuh kedamaian. Sinergi antara pihak kepolisian bersama seluruh elemen masyarakat diharapkan terus terjaga sehingga Kabupaten Tolikara kembali menjadi wilayah yang aman, damai, dan sejahtera bagi seluruh warganya.
Laporan : Michelle Rotinsulu
